Sabtu, 17 November 2018

Sedekah Bumi Kampung Darim Indramayu, Adat Budaya Petani yang Dilestarikan


RAGAM
11 Oktober 2018, 14:55 WIB

Sedekah Bumi Kampung Darim (cuplik.com/ist)

Cuplikcom - Indramayu - Budaya pertanian yang di wariskan leluhur adalah ruh pertanian masa depan. Adat budaya sedekah bumi kampung darim 2018 , di sambut antusias warga masyarakat nya, di awali dengan Arak Arakan tumpeng yang di hiasi dengan berbagai macam hasil bumi kampung darim, Rabu (10/10/2018)

Para Ibu ibu dari semenjak malam hari hingga pagi menjelang mempersiapkan makanan di dapur umum yang di sediakan oleh bapa bapa dan pemuda kampung darim untuk memasak hasil bumi yang di olah menjadi berbagai macam makanan untuk di makan bersama sama di pelataran buyut Asti Pandawa.

Di mulai dengan penyerahan secara simbolis cangkul dan pedangan oleh ketua umum Asosiasi Bank Benih & Tekhnologi Tani Indonesia AB2TI Prof. Dwi Andreas Santosa dengan di lantunkan adzan sebagai pertanda akan di mulainya prosesi adat labu macul & Ngarak tumpeng keliling Kampung Darim untuk mengingat kan kepada masyarakat lain nya pada mangsa kapat dalam perhitungan pratamangsa Jawa akan di mulai nya kembali masa tanam rendengan “ Musim Tanam 1 “ red.

Doa doa serta sholawat di lantunkan pada acara Ngarak tumpeng tersebut dengan di iringi pukulan kentongan dari bambu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberkahan hasil bumi yang meliputi pertanian , perkebunan , dan peternakan di tutup dengan penyerahan cangkul di pelataran Buyut Asti Pendawa kepada Dr Hermanu Haung Triwidodo Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara GPN sebagai penanda prosesi acara adat labu macul & Ngarak tumpeng telah selesai di laksanakan dan di lanjutkan dengan acara berikutnya yaitu kumpul tumpeng.

Sedekah bumi atau sodaqoh kepada Bumi selain adat budaya yang di pegang kebanyakan petani di Kabupaten Indramayu juga sebagai ajang mempererat tali silaturahmi dan semangat kebersamaan antar sesama Masyarakat kampung darim maupun masyarakat lain nya , makna yang terkandung dalam adat sedekah bumi juga semua masyarakat petani kumpul dalam satu acara untuk menentukan di tetapkan nya musim tanam 1 yang menurut perhitungan pratamangsa Jawa nenek moyang petani pada bulan Oktober jatuh pada mangsa Kapat di mana ada 12 mangsa “waktu “ red dalam dalam hitungan pratamangsa.

Prata mangsa tersebut banyak metodologi yang di pakai untuk mengetahui mangsa mangsa di setiap pergantian nya atau akhir mangsa nya salah satu nya di tandai dengan cuaca yang sangat panas di luar tetapi pada dasar bumi mulai dingin dengan metodologi melihat tanaman kapuk yang buah nya pecah dan berguguran siap untuk di panen dan tanaman keras seperti umbi umbian daun nya sudah mulai tumbuh menurut salah satu sesepuh kampung darim bapa dulkhasan harapannya dengan acara sedekah bumi ke depan pertanian di kampung darim khususnya Kabupaten Indramayu umum nya bisa subur makmur dan sejahtera petani nya , seperti pepatah subur kang pinandur , murah kang pinuku , gemah Ripah loh jinawi , baldatun toyibatun wa robun Gofur pungkasnya.

Perhitungan pratamangsa  dengan metodologi tersebut di benarkan oleh Dr . Hermanu Haung Triwidodo sebagai guru besar Institut Pertanian Bogor sekaligus Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara GPN yang hadir dalam acara adat sedekah bumi kampung darim dalam sambutannya memaparkan kampung darim kalau di mana mana terkenal dengan kampung tua yang tetap memegang adat budaya pertanian , dalam pemaparannya adat seperti ini juga di lakukan di setiap tahun nya pada 1 suro oleh Gerakan Petani Nusantara di mana 1 suro tahun ini kalau pada perhitungan Jawa tahun B Windu senggoro Langkir 1952 saka , 1440 H , 2018 M.

Kampung Darim Desa Puntang – Kendayakan Kec . Losarang – terisi Kabupaten Indramayu sebagian besar lahan sawah tadah hujan yang mana pada tahun senggoro Langkir akan banyak kurang hujan , ke depan untuk memulai musim tanam di harapkan nanti ketika sudah ada intensitas hujan tinggi , maka dari itu di karenakan banyak kurang hujan ke depan kita akan di hadapakan pada masa masat susah pangan , kita harus banyak berhati hati tidak boros , di samping itu pada tahun Windu sanggoro Langkir Penyakit Hama dan Tanaman akan di dominasi lembing batu , wereng , virus blast akan tetapi lewat acara sedekah bumi ini sebagai refleksi diri untuk tetap berprasangka baik pada yang maha kuasa agar ke depan di limpahkan kebaikan oleh yang maha kuasa untuk kita semua.

Yang terpenting sebetulnya pada tahun B Windu sanggoro Langkir adalah sifat sifat kita yang di warnai oleh cerita narasoma yang gila terhadap harta , tahta dan wanita menggunakan berbagai cara untuk memenuhi hasrat tersebut hingga mengorbankan orang orang terdekat nya , sifat tersebut akan mewarnai diri kita semua untuk itu menghadapi tahun B Windu senggoro Langkir kita harus mengganti kata aku , kamu menjadi KITA dan pada saat meminta apa pun kepada siapapun jangan lupa mengucapkan kata MAAF dan TERIMA KASIH setelah Mendapatkan sesuatu tersebut.

Prof Dwi Andreas Santosa guru besar Institut Pertanian Bogor dan ketua umum Asosiasi Bank Benih dan teknologi Tani Indonesia AB2TI dalam sambutannya juga memberikan banyak gambaran terkait budaya tani yang mana budaya pertanian kita sedikit demi sedikit terkikis karena arus globalisasi yang tak terbendung baik itu budaya maupun ekonomi dominasi pangan impor yang di produksi oleh para petani petani luar negeri begitu menghegemoni pangan kita , untuk itu lewat acara sedekah bumi kampung darim di harapkan  kedepan nilai hakiki dan luhur budaya tani yang telah di wariskan oleh leluhur kita ratusan tahun yang lalu yang mulai tercabut dari akar budaya  kembali kita kuat kan perkokoh kembali , senada dengan Ketum GPN Dr Hermanu di mana anggota GPN juga Anggota AB2TI menjadikan kata aku , kamu menjadi KITA .

Sebagai penutup Ketum AB2TI Prof Dwi Andreas Santosa membacakan narasi dari kesepuhan Jawa Barat untuk Kampung Darim narasi nya adalah :

Tanah adalah Ibu yang memberikan kita makan bagi kehidupan.
Ibu adalah mahluk sehingga ibu harus di hargai di perlakukan dengan sopan dan di kelola dengan apik.
Tanah tidak boleh di Racuni...!!
Supaya tetap hidup dan melakukan hak dan kewajiban nya sebagai ibu.
Tanah harus selalu mendapatkan petunjuk dari bapa , yaitu langit.
Tanah dan langit adalah tanda kehidupan yang saling memberi makna bagi keberlanjutan.
Seperti pesan leluhur , Gunung lembur kayuan , Lampung gawe awiyan , lebok gulungan , Lebak Sawahan , dan datar rumahan.
Benih adalah anak yang harus di didik dan di perlakukan dengan baik di samping dan timang seperti bayi , di jaga supaya menjadi induk yang baik , di hormati supaya selalu Bone , jangan di biarkan terlalu berpanas-panasan Pancasan bermain di tengah hari , selalu harus di tinggikan dan di gantung , anak kudu mungkir di loyo benih asal narasinya Pinuh.
Selamat merayakan pertanian sebagai budaya tutup nya.


Penulis : ayee
Editor : Didi Rahardi

CURHAT RAKYAT

VIDEO

Film Dokumenter Tentang Perkembangan Pemerintahan Dinasti Indramayu Jabar17/11/2017

TERBARU LAINNYA

IKLAN BARIS

Terima Jasa Foto/Video WA 087727733461
Ingin Bisa dan Handal MengemudiKursus Mengemudi Fajar Utama Indramayu Solusinya. Hub WA 087717771475
Adi Sanga Collection Terima Pembuatan Kaos, Sablon dll info WA 081280656707