Sabtu, 17 November 2018

Memahami Military Marketing Landscape


OPINI
5 Oktober 2018, 23:19 WIB

Dede Farhan Aulawi. (foto: istimewa)

Cuplikcom - Pada dasarnya setiap manusia mencari dan mendambakan perdamaian. Para ahli banyak yang berpendapat bahwa probabilitas kemungkinan terjadinya peperangan di masa yang akan datang semakin kecil. Analisis ini didasarkan akan tumbuhnya kesadaran kolektif umat manusia bahwa penyelesaian masalah dengan menggunakan kekuatan militer melalui mekanisme peperangan bukan pilihan yang baik.

Penguatan sengketa kepentingan maupun sengketa wilayah dan perbatasan akan berbasiskan pada fondasi kekuatan diplomasi serta kemahiran dalam melakukan advokasi hukum iternassional.

Konstitusi Indonesia sudah menyatakan bahwa penjajahan di atas muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan, dan kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Ini merupakan amanah konstitusi bangsa yang diamanatkan pada seluruh putera puteri Indonesia utuk menjunjung tinggi hak asasi manusia. Sebuah landasan luhur yang diletakan oleh para pendiri negara.

Dari satu perspektif bisa optimis bahwa kemungkinan terjadinya peperangan akan semakin kecil, tapi di sisi lain perlombaan persenjataan yang digelar dalam setiap episode parade militer di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa penguatan teknologi dan anggaran untuk militer semakin meningkat.

Sungguh sebuah paradoks antara harapan terciptanya perdamaian dengan perlombaan senjata sebagai simbol akselerasi intrumen pemusnahan umat manusia. Inilah yang menjadi bahan telaah kritis para aktivis pecinta perdamaian.

Konsep pertempuran masa depan akan berbasis pada kualitas SDM dan penguasaan teknologi militer. Dua kosa kata yang tidak bisa dipisahkan. Kualitas SDM yang baik tanpa penguasaan teknologi akan mudah dihancurkan.

Begitupun sebaliknya teknologi yang super mutakhir tanpa didukung oleh kualitas SDM yang kompeten tidak lebih seperti barang rongsok yang tidak bermanfaat.

Telaahan kritis ini yang menjadi dasar lahirnya konsep Military Marketing Landscape yaitu suatu desain untuk membangun konsep pemasaran militer guna mencapai tujuan terwujudnya militer yang profesional dan maju agar mampu menjaga negara dengan penuh martabat dan wibawa.

Dalam tataran implementasi, Military Marketing Landscape biasa diterapkan dalam hal Military Recruitment, Military Political Decision, Military Budgeting, Civil Military Cooperation dan Perception Psycho Power. Lebih jelasnya biasa diterapkan sebagai berikut :

1. Military Recruitment, sebagaimana diuraikan di atas bahwa kata kunci dalam memenangkan pertempuran masa depan akan berbasis pada kualitas SDM.

-Kualitas SDM yang baik akan diperoleh dari hasil penjaringan dari seluruh anak bangsa yang tertarik dengan profil dan masa depan militer bagi kehidupannya. Semakin besar yang tertarik, mendaftar secara sukarela, dan mengikuti tahapan – tahapan seleksi yang baik akan menghasilkan bahan dasar (raw material) SDM kandidat militer yang mumpuni, kompeten dan bisa diandalkan.

-Di sinilah ada peran strategis bagaimana militer membangun citra dengan publisitas yang elegan melalui kemasan marketing strategik-nya.

2. Military Political Decision, hampir di semua negara proses pengambilan keputusan untuk berperang dengan mengerahkan semua kekuatan militer membutuhkan dasar legal keputusan politik, baik dari pihak eksekutif maupun legislatif.

-Jika militer tidak mampu mengemas redaksional marketingnya maka sulit untuk memperoleh persetujuan sebagai dasar legalitas pertempuran dari aspek hukum secara konstitusional. Akibat keterlambatan dalam mengikuti prosedur administratif maka akan mendekatkan pada potensi kekalahan.

-Dengan demikian gelar kekuatan yang ‘marketable’ bisa membangun keyakinan prajurit dan pengambilan keputusan politik yang cepat. Proses untuk mempercepat keyakinan politik akan berlandaskan pada kepiawaian mengemas keputusan dengan proses marketing yang piawai.

3. Military Budgeting, yaitu kemampuan militer untuk mengemas dan meyakinkan kebutuhan dasar anggaran militer yang harus dipenuhi agar terpenuhinya minimum essential force.

-Di dalam praktik upaya meyakinkan ini tidaklah mudah, karena harus mampu meyakinkan dan mendapatkan dukungan suara mayoritas di parlemen. Tentu bukan hal yang mudah, tetapi juga bukan hal yang sulit. Apalagi berbicara sampai pada proses persetujuan pengadaan, proses pengadaan, dan pemilihan alternatif dengan harga yang kompetitif.

-Optimalisasi anggaran yang terbatas untuk memiliki dan menguasai teknologi peralatan mutakhir melalui proses yang bersih.

4. Civil Military Cooperation (CIMIC), bahwa aktual pertempuran akan membutuhkan dukungan dari seluruh rakyat, baik dukungan dalam format logistik, dukungan mental dan psikologis keluarga, partisipasi perjuangan, dan lain – lain.

-Walau bagaimana pun dukungan rakyat akan sangat mendukung kemenangan dalam medan pertempuran.

-Hal ini telah dibuktikan dalam perjalanan sejarah Indonesia, dimana pertempuran di seluruh wilayah senantiasa didukung oleh rakyat, sehingga tentara yang manunggal dengan rakyatnya akan menjadi kuat dan tak bisa dikalahkan. Tentara adalah anak kandung rakyat. Tentara tidak bisa dipisahkan dengan rakyat.

5. Perception Psycho Power, yaitu membangun persepsi publik baik publik domestik maupun publik internasional, dan khususnya musuh yang akan berperang akan berfikir seribu kali setelah membaca dan mempersepsikan bahwa kekuatan militer yang akan dilawannya dianggap jauh lebih besar dan lebih hebat.

-Strartegi membangun persepsi ini bahkan dibangun dalam format tontonan berupa film – film yang menglustrasi kehebatan teknologi dan SDM mereka sehingga terkesan hebat luar biasa. Akhirnya membuat musuh ciut sebelum berperang.

-Membuat musuh pasrah menyerah kalah sebelum berani melawan. Meskipun dalam aktualnya kekuatan SDM dan teknologi mereka belum tentu secanggih apa yang sering dipertontonkan dalam film – film mereka.

-Ini bagian tahap pertama dalam psycho war, agar rakyat di negara lawan tidak mendukung peperangan dan akan cenderung mengikuti keinginan musuh. Jika demikian maka mereka telah berhasil memenangkan peperangan tanpa pertempuran.

Kesimpulannya, bagaimana militer piawai merangkul aspek – aspek strategiknya dengan menerapkan konsep marketing yang baik. Bagaimana mendesain marketing mulai dari konsep, melakukan pemetaan segmen – segmen kekuatan, mengidekntifikasi segala resources, lalu mengemasnya menjadi “barang yang laik jual” sehingga menginspirasi semua kekuatan menjadi bangsa yang disegani dan dihormati. Semoga bermanfaat.

Oleh : Dede Farhan Aulawi


Penulis : winan
Editor : Anan Felicio

Tag :

CURHAT RAKYAT

VIDEO

Pengajian Umum Ustad Muh. Zaki Indramayu | 1 Muharram 1438 H Part 3/717/11/2016

TERBARU LAINNYA

IKLAN BARIS

Adi Sanga Collection Terima Pembuatan Kaos, Sablon dll info WA 081280656707
Ingin Bisa dan Handal MengemudiKursus Mengemudi Fajar Utama Indramayu Solusinya. Hub WA 087717771475
Terima Jasa Foto/Video WA 087727733461