Selasa, 22 Mei 2012


Opini Lainnya
» Belajar Multikulturalisme di
Agama
» Pluralisme Gus
Kajian Islam
» Memperebutkan Makna
Kajian Islam
» Jurnalisme Pesantren
Kajian Islam
» Nabi Muhammad SAW,
Kajian Islam
» Matahari Telah Pulang:
Kajian Islam
» Kisah-kisah Teladan
Agama
» Fenomonologi Arab
Agama
» QULUB AL AHRAR
Kajian Islam
» Akulah Kemanusiaan
Kajian Islam
» Islam: Kepasrahan, Keselamatan
Agama
» Pesantren dan
Kajian Islam
» HAJI, SIMBOL PERJUANGAN
Agama
» MENGAJI “AL-MAHSHUL FI
Agama
» Pohon Islam
Kajian Islam
» 4 Langkah Persiapan
Kesehatan
» Ingin Sukses dalam
Pendidikan
» Tips Mengambil Langkah
Pendidikan
» Tips Mengatasi Nyeri
Kesehatan
» Tips Atasi Rasa
Pendidikan
» Tips Cara Alami
Kesehatan
» Fikih Indonesia dan
Kajian Islam
» Islam Rahmat Lil
Agama
» Menangkal Radikalisme
Agama
» Kode Rahasia Handphone
Iptek
» Ukuran Standar Cetak
Komputer
» Kode Rahasia Handphone
Iptek
» Petunjuk Rasulullah S.A.W
Agama
» Adab Puasa
Agama
» Puasa Yang Disyari'atkan
Agama
SURVEY CUPLIKCOM NEWS
Poll



Hari ini tidak ada Voting.



 CuplikCom » Opini » Kajian Islam » Detail Opini
» Terbaca 222 kali
Matahari Telah Pulang: Merenungkan Sufisme GusDur
Kajian Islam | Senin, 9 Januari 2012 20:55
Oleh : KH. Husein Muhammad*

Share |
Langit Desember yang Murung (1)

Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP berdering mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan "Jepun", milik N, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo mengkonfimasi kabar mengejutkan. "Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat", katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan. Katanya : "Aku baru saja istirahat dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah baik". Tetapi saya penasaran.

Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak. "Bapak meninggal, mbak Yenni di dalam", suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi muram, murung. Saya segera sms Ibu Shinta, isteri tercinta Gus Dur : "Ibu, saya sangat menyesal tidak berada di samping bapak, seperti sebelumnya, mohon maaf". Ya seperti sebelumnya ketika Gus Dur beberapa kali berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya menjenguknya sekaligus mendo'akan kesembuhannya dengan segera.

Dan saya merasa mendapat kehormatan, ketika beliau meminta saya berdo'a bagi kesehatannya. Dengan tetap berbaring di tempatnya, di didampingi ibu Nur, isterinya yang setia dan orang-orang yang hadir, Gus Dur dan mereka mengamininya.

"Kita harus berangkat ke Jakarta sekarang juga", kata saya kepada isteri. Sepanjang jalan dari Cirebon ke Ciganjur, sms dari teman-teman dari segala macam identitas diri; Kiyai, Santri, Abangan, Pendeta, Romo, Bhiku, penganut Konghuchu dan Ahmadiyah, terus berhamburan masuk ke HP saya. Mereka menyatakan duka nestapa teramat dalam dan rasa kehilangan atas kepergian orang yang dicintainya.

Saya tak mengerti mengapa mereka mengirim sms, selain ingin mengabari saya tentang wafatnya Gus Dur dan mendo'akan bagi orang yang mereka kagumi dan keluarga yang ditinggalkannya. Saya membalasnya singkat: "Dia yang selalu membagi kegembiraan, cinta dan harapan pada bangsa, Negara dan mereka yang tak berdaya, telah kembali kepada kekasihnya, dalam damai abadi".

Dini hari yang sejuk, jam 03.00, ketika saya tiba, jalan Warung Sila sampai rumah duka, karangan bunga berwarna-warni, tanda duka cita, berjejer tak berjarak, berserak dan bertumpuk, bagi "Presiden ke 4", bukan "Mantan Presiden". Saya tak bisa menghitung jumlahnya.

Beberapa jam sebelumnya jalan ini macet total. Ratusan kendaraan dan pejalan kaki seakan tak bergerak. Stagnan. Semuanya sengaja datang ke Ciganjur, ke rumah Gus Dur, menyambut kedatangannya dan menyampaikan ta'ziyah kepada keluarganya.

Ketika saya tiba, ribuan orang masih berjaga di ruang-ruang di sekitar rumah. Masjid al Munawwaroh, tempat Gus Dur mengaji kitab "al Hikam", karya Ibnu Athaillah, seorang sufi besar, dan kitab-kitab yang lain, masih gemuruh dengan bacaan ayat-ayat suci al Qur'an. Saya segera masuk rumah. Jenazah sudah dibaringkan.

Wajah Gus Dur yang tertutup kelambu putih yang tipis, terlihat jelas, seakan-akan sengaja dibiarkan demikian agar para pelayat bisa melihatnya. Saya segera mendapat giliran entah untuk yang ke berapa puluh kali, memimpin shalat janazah, tahlil dan berdo'a.

Di hadapan tubuh yang masih utuh itu, saya teringat kata-kata dalam sebuah buku tasawuf : "Ketika jiwa pergi dalam keadaan bersih, tanpa membawa serta bersamanya hasrat-hasrat rendah duniawi yang menciptakan ketergantungan, yang selama hidupnya selalu dihindari dan tak pernah dibiarkan menguasi diri; menjadi diri sendiri dan menempatkan perpisahan jiwa dari badan sebagai tujuan dan bahan permenungan... maka jiwa itu telah siap untuk memasuki wilayah kasat mata (‘Alam al-Musyahadah) di mana para bijak-bestari tinggal".

Ya, itulah jiwa yang telah matang. Ia yang hatinya telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkannya, yang dicintainya. Ia yang telah membagi cinta kepada mereka yang hatinya remuk-redam, tak berdaya dan tanpa gantungan.

Ia yang bicara begitu bebas, tanpa beban, polos, karena tak punya hasrat rendah apapun dan tak tergantung pada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Ia yang tak pernah peduli dengan gelar-gelar kehormatan yang dianugerahkan dunia kepadanya. Ia yang pikirannya mampu menjangkau masa depan dan melampaui zaman, tetapi yang tetap bisa bertahan dengan kokoh menjalani tradisinya. Ia yang tak pernah gentar untuk melawan setiap tangan tiranik dan korup. Ia yang tak mau kompromi terhadapnya dan tak peduli pada cibiran orang kepadanya.

Begitu usai, saya masuk ke bagian dalam rumah yang kamar-kamarnya sudah lama saya hapal. Mencari ibu Shinta. Ibu sudah di dalam kamarnya yang tampak remang, didampingi tiga putriya, tentu dalam rinai tangis yang mengiris. Saya tak bisa menemui beliau untuk ta'ziyah, membesarkan hatinya dengan kesabaran dan ketulusan. Begitu cara berta'ziyah yang saya terima dari persantren. Saya hanya bertemu Lissa, putri pertamanya dan menyampaikan ta'ziyah itu. Matanya masih tampak lebam dengan wajah sendu, tak bergairah, meski tetap bisa senyum.

Saya diminta mengantarnya untuk melihat ayahnya, membuka tirai yang menutup wajahnya, lalu membaca tahlil dan berdoa. Lissa tertunduk dan terisak-isak lirih. Kami melihat dengan jelas wajah Gus Dur, sungguh, tampak ceria, tenang dan teduh. "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai-Nya. Amin". Ayat suci ini saya baca berulang.

Masih dalam posisi berdiri sambil menunduk, saya segera teringat kembali syair yang acapkali ditembangkan Gus Dur :

وَلَدَتْكَ اُمُّكَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيًا وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُوْنَ سُرُوراً

فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ اَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا فِى يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا

Ketika ibu melahirkanmu, Wahai anak cucu Adam
Engkau menangis, sedang orang-orang di sekitarmu
Menyambutmu dengan riang
Maka, bekerjalah sungguh-sungguh untukmu sendiri
ketika engkau tak lagi bersama mereka selamanya,
mereka menangis tersedu-sedu
Sedang engkau pulang sendiri sambil tersenyum manis

Seperti bunyi syair di atas, ribuan orang di seluruh negeri, malam itu, berduka dan menangis tersedu-sedu. Sebagian histeris. Sementara Gus Dur memang pulang sendirian dengan riang. Beliau akan segera memasuki gerbang rumah abadi yang damai. Usai shalat subuh dan ketika matahari beranjak naik, jenazah dibawa dan diantar dengan kehormatan kenegaraan, menuju Bandara Halim Perdana Kusuma dan terus ke rumah asal Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di sana jenazah akan diistirahkan selama-lamanya di samping ayah; K.H. Wahid Hasyim dan kakeknya; Hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy'ari.

Para santri biasa menyebut Gus Dur, ayah dan kakeknya yang amat dihormati dengan "al Karim Ibn al Karim Ibn al Karim" (orang yang mulia putra orang yang mulia putra orang yang mulia). Kaum bangsawan Jawa mungkin menyebutnya : "Gus Dur adalah seorang darah biru putra seorang darah biru putra seorang darah biru". Langit biru bening dilapis awan putih berarak, bergerak pelan-pelan mengantar pesawat yang membawa jasad Gus Dur.

Di tempat peristirahatannya yang terakhir itu, sebelum tubuhnya diturunkan ke bumi, Gus Dur mungkin masih membagi kegembiraan dan pesan kepada para pengantarnya untuk tidak menangisi kepulangannya, seperti pesan Maulana Jalaluddin Rumi ini :

Jangan menangis: "Aduhai kenapa pergi!"
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, "Selamat tinggal"
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)

Bila datang ke makamku
Untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang
Karena pada perjamuan Tuhan,
Orang berduka tidak diberi tempat

(Tulisan ini pernah dimuat di sejumlah media. Ringkasannya menjadi bagian dari buku "Gus Dur: Bertahta di Sanubari", editor Anita Wahid, diterbitkan oleh The Wahid Institute, Pebruari 2010. Republikasi ini memenuhi permintaan keluarga, santri, sahabat, dan Gusdurian di desa, agar tulisan ini diterbitkan di FB, untuk mengenang Gus Dur. Karena panjang, tulisan akan dibagi dalam 7 seri).

*Penulis adalah Ketua Dewan Kebijakan di Fahmina

.
Share |
Komentar

 Berita Terbaru
» SMKN 3 Mataram Rakit 2.000
Humaniora (Sen, 21 Mei 2012 18:01)
» Tips Unik, Memutihkan Gigi Tanpa
Gaya Hidup (Ming, 20 Mei 2012 01:02)
» Kembali Terjadi 4 Mobil
Peristiwa (Ming, 20 Mei 2012 00:02)
» Tips Unik, Saat Puncak Gairah
Gaya Hidup (Sab, 19 Mei 2012 02:14)
» Gairah Seks Wanita Bisa Padam
Gaya Hidup (Sab, 19 Mei 2012 01:45)
» Rumah Petani China Ditelan Oleh
Internasional (Sab, 19 Mei 2012 01:33)
» Benarkah Iran Siap Serang
Internasional (Sab, 19 Mei 2012 00:57)
» Unik, Upacara Wisuda Diselingi Aksi
Humaniora (Kam, 17 Mei 2012 10:31)
» Libur Panjang, Polisi Hentikan Perbaikan
Peristiwa (Kam, 17 Mei 2012 09:55)
» Sabda Sultan Hamengkubuwono X Isyarat
Politik (Kam, 17 Mei 2012 00:04)
» Microsoft Menambah Aplikasi Hiburan
Teknologi (Rab, 16 Mei 2012 18:05)
» Google+ Masih Tertinggal Jauh
Teknologi (Rab, 16 Mei 2012 15:16)
» Jurus Pamungkas Apple Taklukkan Android
Teknologi (Rab, 16 Mei 2012 10:52)
» Sebenarnya Pria Ingin Lihat
Gaya Hidup (Rab, 16 Mei 2012 00:02)
» Gagalkan Aksi Ngeseks Lantaran
Gaya Hidup (Sel, 15 Mei 2012 22:38)
950x100 bawah