Nabi mengatakan: "pada hari kiamat kelak, para pemimpin akan dihadirkan di hadapan Tuhan. Lalu Dia mengatakan: "Kalian adalah para pemimpin ciptaan-Ku dan penjaga semua milik-Ku di bumi".
Kepada sebagian mereka Tuhan mengatakan: "Mengapa kamu menghukum hamba-Ku di luar batas yang ditetapkan oleh aturan-Ku". Mereka menjawab: "Tuhan, mereka telah mendurhakai dan menentang-Mu". Dia mengatakan: "Tak sepantasnya kemarahanmu melampaui kemarahan-Ku".
Kepada yang lain Tuhan mengatakan: "Mengapa kalian menghukum orang lebih ringan dari yang seharusnya?". Mereka menjawab: "kami kasihan padanya, Tuhan". Dia mengatakan: "Bagaimana mungkin kalian lebih sayang daripada Aku".
Kepada kalian yang menghukum lebih berat dan lebih ringan itu Tuhan lalu melemparkan mereka ke neraka jahannam". (Al-Ghazali, al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk", hlm. 21).
Kisah 2
Suatu hari seorang darwis menemui seorang Khalifah. Khalifah meminta dia menasehatinya. Si darwis lalu mengatakan; "Wahai amir al Mukminin (pemimpin orang-orang beriman), aku baru saja mengembara ke negeri Cina. Pemimpin negeri itu sakit pendengaran sehingga tuli.
Suatu hari aku mendengar dia berkata sambil menangis. "Demi Tuhan, aku tidak menangisi ketulianku. Aku menangis karena melihat seorang yang teraniaya di depan pintu istanaku. Dia meminta tolong, tetapi aku tidak mendengarnya. Tetapi aku bersyukur kepada Allah karena mataku bisa melihat.
Sang Pemimpin lalu memanggil pembantunya dan memintanya mengumumkan kepada khalayak siapa saja yang dizalimi agar mengenakan baju merah. Sang Pemimpin kemudian naik di atas punggung gajah dan menyusuri jalan-jalan di negeri itu.
Manakala dia melihat orang berbaju merah dia memanggilnya dan mendengarkan pengaduannya, lalu menyelesaikannya dengan hukum yang adil. Si Darwis mengatakan:"Lihatlah tuan Khalaifah, betapa kasihnya si Kafir itu kepada hamba-hamba Allah. Anda seorang mukmkin dan keturunan Nabi. Aku ingin melihat bagaimana anda dapat bertindak penuh kasih kepada rakyatmu". (Al-Ghazali: al-Tibr al-Masbuk, hlm.24).