Cuplik.Com - Yogyakarta: Dalam rangka mengenang "Si Burung Merak", Sebuah pementasan dari Kelompok Seni "Senandika" berkolaborasi dengan Sanggar Seni "Kerikil", menampilkan: Pembacaan puisi, Monolog dan teater yang berjudul "Klentu", dengan kemasan sederhana namun penuh kritik sosial.
Dari pantauan tim cuplik.com pada Minggu (09/08/09) yang dimulai pukul 19.30 WIB bertempat di auditorium sekretariat Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Indramayu (KAPMI) D.I. Yogyakarta, menggelar pementasan teater yang berjudul "Klentu", diiringi pembacaan puisi dan monolog.
Pementasan dimulai dengan pengiriman do'a buat almarhum WS. Rendra dan dilanjutkan pembacaan puisi dari salah satu karya "Si Burung Merak" yang dibacakan oleh Sri Sulastri dari sanggar seni Kerikil. kemudian disusul monolog oleh Warto yang mengisahkan tentang perjuangan pak tua untuk menghadiri upacara kemerdekaan.
Selanjutnya diakhiri dengan pementasan teater yang berjudul "Klentu" yang disutradarai sekaligus penulis naskahnya oleh FIqi Pemes dari Senandika, dengan para pemain Yoga (Karman), Tri Jumbo (Suminten), Muin (Pimpinan), Frenky Mubarok (Wagiman/calon kep. desa I) dan Fiqi Pemes (Pak Harto/calon kep. desa II).
Dengan konsep artistik yang sederhana dan menggunakan bahasa jawa, pementasan ini memberikan satu warna yang berbeda dengan pementasan-pementasan teater pada umumnya. Uniknya dikemas dengan sangat sederhana, baik alur, naskah ataupun dialognya, sehingga dapat dipahami oleh kalangan apapun, termasuk oleh orang yang belum pernah melihat pementasan teater.
"Kata Klentu diambil dari bahasa Jawa yang berarti "keleru atau salah/kesalahan" kata Sutradara kepada cuplik.com. Inti cerita dalam pementasan tersebut mengenai pemilihan kepala desa yang dalam kampanyenya menggunakan politik uang atau money politic, kemudian sebagian warganya yang bernama Karman salah dalam melakukan pencontrengan, akhirnya sang Pimpinan memutuskan pemilihan ini tidak sah, dan diputuskan boleh Pimpinan bahwa yang menjadi kepala desa adalah Karman. Uniknya, kejadian tersebut hanyalah mimpi yang sKarman saat tertidur di pos penjagaan.
"Alur seperti itu sengaja kami sembunyikan untuk memberikan pendidikan politik dan merangsang masyarakat agar menyukai dan mencintai teater yang selama ini jarang dimintai" kata sutradara saat menggelar evaluasi pasca pementasan. [/wo].