Cuplik.com - Sebuah negara yang subur, mempunyai SDA yang kaya dan penuh dengan beraneka ragam budaya, sangatlah mungkin berpotensi menjadi negara yang kaya raya, makmur dan sentosa. Tapi mungkin itu hanyalah sebuah obsesi yang bisa terjadi hanya dalam mimpi belaka. Kondisi negara yang semrawut, dan sistem pemerintahan yang abu-abu dan setengah-setengah, menjadikan bangsa ini hilang identitasnya. Di tengah arus globalisasi dan pesatnya tehnologi, bangsa ini masih berputat mengurusi masalah internal, masalah identitas diri dan konflik-konflik internal yang merajalela. Dapat dikatakan bahwa negara kita sedang “koma” kritis diambang kehancuran……. Persoalan budaya lokal (khususnya Indramayu) yang selalu ditinggal dan bahkan dikikis oleh budaya-budaya asing yang berakibat fatal bagi paradigma masyarakat yang menganggap bahwa kebudayaan sendiri itu lemah dan melahirkan pola pikir pragmatis, konsumtif dan hedonis. Kesenian misalnya; yang sampai saat ini kesenian asli Indramayu telah hilang terkikis oleh datangnya budaya baru dari luar yang tanpa filter dan tidak dimaknai sebagai akulturasi budaya yang positif, justru cenderung lahap menyantap budaya tersebut.
Pemerintah (Indramayu) dalam hal ini sebagai pengatur sistem telah asyik memanfaatkan kondisi yang ada, sehingga hanya memihak pada kepentingan individu birokrasi tanpa mengedepankan kebutuhan-kebutuhan rakyat. Sebut saja persoalan petani; irigasi yang tidak dipedulikan, pupuk mahal, para tengkulak nakal, dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang apriori dan terkesan membisu dan tak berpihak. Persoalan nelayan yang terpaksa memancing di air keruh yang sudah tercemar oleh limbah-limbah industri, BBM yang melambung tinggi, para pemilik modal atau pemilik kapal yang sewenang-wenang, menimbulkan banyak konflik dan melahirkan karakter nelayan yang liar yang merusak lingkungan lautnya demi terhindar dari ketertindasan. Namun sisi lain pemerintah lagi-lagi diam dan malah memanfaatkan para kaum kapitalis untuk mendapatkan upeti yang besar. Tentang buruh, kebijakannya yang semakin mencekik rakyat dengan upahnya yang minim dan sistem kontrak yang membuat rakyat kehilangan pekerjaan, dan jaminan buruh yang tidak pasti, semakin kuatnya kapitalisme merajalela dan mengelabuhi birokrasi untuk menjadi anjing penjaganya. Sistem pendidikan yang seolah-olah menciptakan robot-robot perusahaan dan membunuh semua gerak kreatifitas rakyat telah bersekongkol antara pemerintah dan kaum kapitalisme tanpa disadari.
Semua itu adalah kondisi kritis yang selama ini kita tidak sadar dan memang kita sengaja tidak disadarkan oleh sistem pemerintah dan kuatnya Kapitalisme, inilah sebenarnya muara dari persoalan-persoalan yang ada di tanah kita ini, di negeri ini.[IG/].